Share This

Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Selasa, 19 Juni 2012

Caving di Gua Petruk

Berangkat dari Purwokerto Jam 12 malem

Kesasar nyampe Pasar Gombong

Gaya dulu sebelum masuk gua

3 sekawan 

di mulut gua ngaso dulu

di dalam gua pose lagi


pengamatan gua

stalakmit dan stalaktit

ditemani cahaya lilin

tetes air di lonceng


Rabu, 04 April 2012

Sepenggal Catatan dari Gunung Arjuno-Welirang

Kopas dari sahabatku ...cerita dulu saat bareng2 mbolang ke JAWA TIMUR....


Gunung Arjuno (3.339 m dpl) adalah gunung api tua dan sudah tidak aktif, Sedangkan Gunung Welirang (3.156 m dpl), masih ada aktifitas yang ditunjukkan dengan adanya kawah belerang. Gunung Arjuno dan Gunung Welirang terletak pada satu gunung yang sama dan terletak dalam satu rangkaian dengan Gunung Anjasmoro dan Gunung Ringgit. Pada lembah-lembah diantaranya, terutama di lereng Gunung Arjuno dan Ringgit, terdapat puluhan peninggalan purbakala yang berserakan dan belum ditangani secara tuntas. Sebagian tertutup semak-belukar.


 Gunung Arjuno (atau Rajuna, nama kuno) terletak di Malang, Jawa Timur, bertype Strato dan berada di bawah Pengelolaan Tahura Raden Soeryo. Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu. Gunung Arjuno dan Gunung Welirang terletak di Propinsi Jawa Timur Indonesia, Kedua gunung ini berada pada satu gugusan pegunungan. Untuk jalur pendakian ke puncak Arjuno dapat dimulai dari berbagai tempat, yaitu Tretes, Purwosari – Pasuruan, Wonosari - Lawang (Kebun Teh), dan Sumber Brantas (Jurang Kwali). Pendakian kami melalui jalur Jurang Kwali-Wonosari.

Senin, 25 Juli 2011

Ye! Gunung terakhir! Hari ini saya bersama keempat tim pengembaraan dari UPL MPA Unsoed Sigit, Hata, Fajar, dan Mas Dosso mendaki gunung ketiga dalam rangkaian pendakian kami menuju Gunung Arjuno-Welirang setelah mendaki Gunung Raung dan Gunung Argopuro. Pukul 08.30 kami berangkat menuju Terminal Lama Probolinggo dengan bus Akas, satu-satunya bus jurusan Bremi – Probolinggo yang biasa mangkal tepat di samping Pesanggrahan.






Dari Terminal Lama kami naik angkot sampai Terminal Bayu Angga Probolinggo. Dari terminal naik bus jurusan Malang sampai Karanglo. Dari Karanglo naik angkot warna oranye menuju pasar Karang Ploso. Di sana seperti biasa saya dengan ditemani Hata bertugas berbelanja keperluan logistik untuk pendakian nanti.
  
Dari Karang Ploso naik angkot lagi sampai Pertigaan Batu-Selecta. Kami menyewa angkot sampai Jurang Kwali, tetapi tarifnya mahal jika dibanding dengan tarif asli yang ditempel di pintu angkot. Itulah karena kami tidak tahu. Di sepanjang jalan pemandangan yang kami lihat sangat indah. Perkebunan apel Malang yang diselingi lahan pertanian palawija terhampar luas di kaki pegunungan yang tampak biru megah di kejauhan.

Di Jurang Kwali kami sempat berputar-putar karena alur perizinan yang tidak jelas. Sampai akhirnya kami tiba di pemandian air panas Cangar untuk mengurus izin dan membeli tiket masuk. Di sana kami bertemu dengan anak Mapala yang memberitahu kami mengenai basecamp pendakian. Gunung Arjuno-Welirang jalur Sumber Brantas tidak ada basecamp khusus, tetapi biasa menginap di Warung Makan Bu Sutami di Jurang Kwali.

Akhirnya pada pukul 17.00 kami tiba di Warung Makan Bu Sutami. Di sana kami menginap semalam dan packing logistik. Beban yang akan kami bawa besok lebih berat dari pendakian sebelumnya karena semua barang akan dibawa melintas. Air pun direncanakan akan mengambil dari bawah karena sepanjang jalur pendakian Arjuno-Welirang-Lawang tidak ada sumber air.

Selasa, 26 Juli 2011

Tepat pukul 06.00 kami meninggalkan Warung Makan Bu Sutami menuju sumber air terakhir. Jalan menuju sumber air melewati areal pertanian berupa wortel dan kentang. Jalur yang ditempuh cukup membingungkan karena banyak persimpangan. Kami pun sempat berputar-putar cukup lama. Pada pukul 08.30 kami mengambil air di tandon dan sarapan pagi sebuah gubuk sampai pukul 10.50. Saat kami memulai perjalanan,matahari sudah bersinar terik terutama di areal pertanian kentang. Jalur yang ditempuh relatif landai dan sesekali menanjak saat masuk punggungan baru.

Pukul 12.50 kami tiba di Persimpangan Gunung Arjuno-Welirang dan melakukan coffee break sampai pukul 14.00. Di sana pun kami menyimpan cadangan air yang dibawa saya dan Fajar. Jalur menuju Puncak Welirang relatif terjal dan banyak pohon tumbang. Kami pun sempat tersesat di punggungan G.Kembar 1 karena jalurnya kurang jelas. Jalur melebar dan terdiri dari batu-batu putih di jalur penambang belerang. Pergerakan kami tidak begitu cepat karena Hata yang hari itu berulangtahun kelelahan. Saya sudah merasakannya di gunung pertama (G. Raung), sekarang giliran kau, Bung!

Di plawangan carrier kami ditinggal untuk mempercepat pergerakan dan hanya punya Fajar yang dibawa. Untuk mendaki Puncak Welirang disarankan memakai penutup hidung karena terdapat gas belerang yang dapat menyesakkan napas. Jalur menuju puncak berbatu-batu labil dan harus hati-hati. Pukul 17.25 kami sampai di Puncak Welirang, puncak ketiga kami. Sunset di puncak ini sungguh menakjubkan!

Di puncak kami hanya menghabiskan waktu 15 menit untuk berfoto karena hari sudah hampir malam dan berbahaya jika berlama-lama di puncak. Pukul 17.40 kami turun dan mendirikan camp di Pos Batu Besar pada koordinat 07° 44’01”LS dan 112° 34’24”BT.

Rabu, 27 Juli 2011

Hari ini adalah operasional menuju Puncak Arjuno. Kami mulai berjalan dari pukul 08.00 menuju Persimpangan Gunung Arjuno-Welirang. Di perjalanan kami bertemu dengan penambang belerang.

Dari persimpangan mengambil jalan yang menanjak ke arah kiri. Di antara rerumput ilalang dan pohon-pohon cemara terdapat sumber uap panas (fumarole) di beberapa tempat. Jalan landai begitu masuk savana, lalu melipir punggungan G.Kembar II. Pemandangan menuju Gunung Arjuno sangat indah, hampir sama dengan keadaan vegetasi di Gunung Argopuro. Bunga-bunga primula polifera yang kuning, edelweiss, rosseberry, dan rumput tumbuh subur di antara cemara-cemara yang menjulang.

Setelah melintas padang rumput, jalan menanjak di punggungan baru yang menuju puncak. Di salah satu dataran yang cukup luas kami melakukan ishoma pada pukul 12.25. Pukul 14.25 kami melanjutkan perjalanan. Dari tempat ishoma, Puncak Arjuno sudah terlihat tapi jalur yang ditempuh masih panjang dan bercuaca panas. Pada pukul 15.15 kami tiba di Tugu Perbatasan Malang-Pasuruan. Kaki kanan di Malang, kaki kiri di Pasuruan. Sakti, kan?

Akhirnya, pada pukul 15.30 kami tiba di Puncak Arjuno, puncak terakhir dalam operasional pengembaraan. Spanduk pengembaraan dan panji UPL MPA kembali terbentang di puncak gunung. Selembar merah putih besar yang berkibar-kibar menyambut kedatangan kami. Dengan berpegangan tangan kami berdiri di puncak itu, mengungkapkan rasa bahagia dan syukur kami. Alhamdulillah, Allah memberikan kami kekuatan untuk menyelesaikan pengembaraan ini.

Tak lama di puncak, kami segera turun menuju jalur Lawang. Di sekitar puncak terdapat empat tugu memorial. Setelah itu jalur terjal dengan vegetasi centigi, edelweiss, dan paku-pakuan. Pukul 16.50 tiba di pertigaan jalur Lawang dan jalur Purwosari. Kami putuskan untuk memaksimalkan pergerakan sebelum hari gelap. Akhirnya pada pukul 17.45 kami melakukan camp pada koordinat 07° 46’58”LS dan 112° 36’36”BT.

Rabu, 28 Juli 2011

Pukul 08.15 kami memulai perjalanan turun. Target hari ini adalah turun ke Pos Izin Pendaki di Desa Wonorejo Lawang dan menuju ke Surabaya. Jalur turun tidak begitu terjal, melewati hutan dan savana.Kejadian saat di Gunung Raung terjadi lagi. Kami kekurangan air karena kurang kontrol pemakaian.

Di sepanjang perjalanan, di kejauhan Gunung Semeru tampak mengintip di antara awan-awan tebal. Pukul 09.00 kami tiba di Shelter III (Pos Mahapena). Di sana kami break selama 15 menit sembari menikmati pemandangan menakjubkan di arah timur. Bukit-bukit bervegetasi rumput dan cemara begitu cerah bermandikan cahaya matahari. Gunung Semeru tampak mempertunjukkan pemandangan yang luar biasa, menyemburkan asap tebal ke langit yang sedang biru-birunya.

Jalur setelah Pos Mahapena cukup licin dan tertutup semak dan rerumputan, lalu masuk padang rumput yang sangat luas yang dikenal dengan nama Oro-Oro Ombo. Cuaca di Oro-Oro Ombo sangat terik, ditambah lagi dengan persediaan air yang sangat sedikit. Pemandangan di Oro-Oro Ombo begitu indah. Rumput-rumput yang hijau  kekuningan, bunga-bunga putih, tampak memesona dipadu dengan hamparan awan putih yang berarak di bawah kami.

Setelah Oro-Oro Ombo tiba di Shelter II (Pos Lincing). Di sini terdapat bangunan kayu yang dapat dimanfaatkan untuk bermalam. Dari Pos Lincing jalan lebar, kering, dan panjang. Terdapat pohon-pohon sengon kecil yang baru ditanam, saliara, rumput gajah, dan pisang.

Pukul 11.40 tiba di perkebunan teh. Dari bangunan tempat pengumpulan teh mengambil jalan ke arah kiri, lalu masuk jalan setapak di tengah perkebunan teh untuk mempercepat menuju Desa Wonorejo. Jalan menuju desa sangat jauh, sementara kerongkongan kami sudah terasa kering kehausan. Akhirnya pada pukul 12.50 kami tiba di Pos Izin Pendaki Desa Wonorejo Lawang. Di sana kami bersih-bersih, masak, dan yang paling penting minum sampai puas.

Setelah selesai beraktivitas, kami berangkat menuju Stasiun Lawang pada pukul 16.25 dengan menggunkan ojek, bonceng tiga dengan membayar Rp. 7.500,00/motor. Di Stasiun Lawang menunggu kereta komuter jurusan Stasiun Gubeng Surabaya sampai pukul 19.30. Pukul 21.00 kami tiba di Stasiun Gubeng dengan disambut live music. Sungguh perjalanan yang sangat mengesankan. It’s unforgettable moment !

Naskah Oleh :

Y. Yulia Andriani
Jln. Tentara Pelajar No. 50 Ciamis 46211

Selasa, 27 Maret 2012

Setelah 8 Bulan lamanya...akhirnya ku JEJAK-kan " Jalur Kaliwadas" Gunung Slamet


Setelah 8 bulan dari terakhir aku mendaki ...ku JEJAK-kan lagi kaki ini di Gunung..kali ini Gunung Slamet menjadi tujuan. Kaliwadas menjadi pilihan jalur pendakian kali ini. Jalur Kaliwadas merupakan jalur yang mempunyai trek yang cukup panjang, normalnya membutuhkan waktu 18 jam perjalanan dari titik start awal pendakian menuju puncak Slamet. Kita dapat menuju titik start tepatnya di desa Kaliwadas dengan melalui Bumiayu atau lewat Guci via Tuwel. Dengan akses yang cukup susah jalur ini jarang sekali di daki. 

Bukan pertama kalinya si, aku melewati jalur ini, tepatnya akhir tahun 2010 lalu aku juga pernah melewati jalur ini. Setidaknya bisa membuka kembali memori2 kenangan dulu saat mendaki melewati jalur ini.

Menuju Tuk Suci

Senja di Pertigaan Jalur Baturaden - Kaliwadas

Start Awal Pendakian

Puncak Terlihat dari Jalur Kaliwadas

Menunggu di depan Masjid Agung Bumiayu...".Mobile ra tekan2"....

Di Basecamp Kaliwadas

Pemandangan Bawah dari Puncak Baturaden

Foto dulu...sambil ngaso...

@ camp hari pertama pendakian

Di mobil ..."perjalanan ke Kaliwadas"

Tuk Suci

Pos II Jalur Kaliwadas

Menuruni Pelawangan Bambangan

Menuju Puncak Baturaden

Pelawangan Baturaden

@ Puncak

Pelepasan Sebelum Berangkat

Minggu, 18 Maret 2012

Jalur Kalipagu.. Perjalanan Ekstrem Menuju Puncak Gunung Slamet


H 1, 24 Maret 2011
Hari ini kami akan melaksanakan Try Out 1 Pengembaraan Tim Gunung Hutan ke Gunung Slamet jalur Kalipagu-Baturraden dengan jumlah personil 5 orang, Sigit Puji Jatmiko, Hata Indarmawan, Fajar Tri, Yeni Yulia, dan seorang pendamping dari angkatan Cadas Stalaktit, Doso Hidayatullah. Kami berangkat pada pukul 11.16 WIB setelah pelepasan di sekre tercinta UPL MPA UNSOED dan menimbang carrier di SHC. Ternyata beban yang kami bawa berat juga, antara 25-30 kg.
Di Basecamp Kalipagu kami disambut oleh keramahan Biyunge yang telah mengenal tim kami dengan baik. Akhirnya, jam 12.25 kami pun memulai pendakian dengan diiringi hujan lebat.
Medan yang kami tempuh bervariatif. Pendakian diawali dengan menelusuri jalur pipa air, ladang penduduk, dan percabangan Kali Banjaran. Setelah menempuh 45 menit pendakian, medan mulai terjal dan licin. Di kiri-kanan punggungan yang kami lalui terdapat lembahan-lembahan besar. Gemuruh air Kali Manggis menggema di antara desau angin dan rintik-rintik hujan. Pohon-pohon damar, rotan, dan paku-pakuan mendominasi hutan. Serumpun besar pohon bambu tumbang dan merintangi jalan sehingga kami terpaksa merangkak mencari jalan baru. Pada ketinggian 1.000 m dpl ke atas medannya licin dan berlumpur, mirip dengan rawa-rawa karena di jalur ini sering diguyur hujan.
Pukul 16.35 kami putuskan untuk membuat camp pertama di sebuah shelter kecil pada koordinat 0015.0355. Keadaan cuaca mendung dan gerimis. Suhu tercatat mencapai 21°C. Hewan-hewan daerah lembab seperti pacet dan nyamuk banyak dijumpai di Camp 1.
              H2, 25 Maret 2011
          Operasional hari ke-2 pergerakan kami tidak begitu jauh. Medan yang kami tempuh cukup sulit karena banyaknya persimpangan jalur yang membingungkan dan rapat oleh vegetasi hutan sehingga harus disurvei dan diterabas. Pohon-pohon tumbangpun tak luput merintangi perjalanan kami. Oleh karena itu kami membuat tanda di sepanjang jalan yang dilalui. Ternyata setelah dicek di peta perjalanan kami melenceng dari jalur yang telah di-plotting sejak awal. Salah masuk punggungan, dan akhirnya harus mencari kembali punggungan yang benar menuju ke arah Igir Dawa.
          Di jalur itu kami menemukan tanda yang dibuat oleh tim pendaki dari Wanadri berupa tiga buah bacokan di pohon dan bertuliskan WWW 21-03-2011 Judas, hanya berselang beberapa hari dari jadwal keberangkatan kami. Menurut kabar dari teman-teman di sekre, di tempat itulah mereka berputar-putar selama 2 hari, dan kali ini kami lah “korban” berikutnya!
             Pada saat itu cuaca kurang bersahabat. Ada kalanya cerah dan hangat,namun beberapa saat kemudian berubah mendung, berkabut, dan gerimis. Vegetasi hutan rapat oleh semak-semak,paku-pakuan, palmae, keladi, pohon-pohon besar, dan pisang. Kurang masuknya sinar matahari menyebabkan pohon-pohon berlumut tebal dan bertanah lembab. Tetumbuhan pun menjulang tinggi seolah berlomba-lomba menembus canopy, mencari sinar matahari agar dapat berfotosintesis dengan sempurna.
          Di perjalanan banyak dijumpai dataran yang cukup nyaman untuk camp dan ada di antaranya yang tampak baru dipakai. Selain itu banyak pula dijumpai lubang-lubang bekas pembuatan arang.
          Kami menemukan pertigaan jalur dan mengambil jalan yang lurus dan tampak pernah dilalui orang. Tapi lagi-lagi jalannya buntu. Setelah menerabas rerimbunan semak paku-pakuan kami tersadar, kami mengambil jalan yang salah. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke pertigaan. Apa yang terjadi? Sambil tersenyum lega bercampur geli, asem, dsb sekaligus menertawakan kekurangjelian, kami menunjuk sebuah panah kecil petunjuk jalan ke arah kanan menuju puncak yang tertempel di pohon. Nah…!
          Hujan kembali mengguyur dengan deras. Waktu telah menunjukkan pukul 16.30, saatnya untuk mendirikan camp yang kedua pada koordinat 0000.9410.
H3, 26 Maret 2011
          Operasional H3 dimulai pada pukul 09.40 dan molor dari waktu yang telah ditentukan. Perjalanan diawali dengan mengikuti panah petunjuk yang ditemukan kemarin, tetapi jalur kembali buntu dan kami melakukan travers ke punggungan Igir Dawa sejauh 1 kontur. Dari tengah rerimbunan semak belukar kami mendengar suara babi hutan mendengkur-dengkur keras. Namun kemerduan nyanyian burung kutilang dan anggrek-anggrek hutan nan cantik mampu menerbitkan senyum kami.
          Jalur menuju triangulasi Igir Dawa (Pos 2) tampak jelas, dengan mengikuti punggungan yang tidak begitu lebar dan panjang. Keadaan alam di jalur ini masih tampak perawan. Tumbuhan kantong semar yang tidak pernah dijumpai di jalur-jalur pendakian umum lainnya tumbuh subur di tengah rerimbunan semak. Tampak cantik dan mungil, seperti kumpulan peri kecil bergaun merah.
          Dari triangulasi Igir Dawa menuju Kali Banjaran ditempuh selama 30 menit dengan medan yang menurun dan relatif landai. Airnya jernih berbatu-batu padas, dengan lebar kurang lebih 3 m. Setelah mengambil air, kami menyeberangi sungai menuju punggungan curam dan tinggi di depannya.
          Kemiringan punggungan itu mencapai 80°, nyaris vertikal. Kondisi tanahnya sangat labil, licin, dan sulit mendapat pegangan karena vegetasinya kebanyakan mudah patah dan tidak mampu menahan berat kami. Berkali-kali kami tergelincir, sementara di bawahnya menganga jurang berbatu-batu dan air terjun yang bergemuruh. Kali Banjaran yang tenang tidak lagi bersahabat, malah berubah menjadi sesosok monster yang bersiap menelan kami hidup-hidup.
          Kami memanjat dengan menggunakan bantuan alat. Hata merangkak ke atas menggunakan ice axe, sementara Yeni, Sigit, dan Fajar tertahan di tengah jalan karena tidak ada lagi pegangan dan pijakan. Dari atas Hata mengeluarkan webbing dan bergantian menarik teman-temannya yang masih terjebak. Medan pun semakin sulit dengan adanya pohon besar yang tumbang. Pemanjatan sarat resiko ini berlansung selama 2 jam. Untung saat itu tidak turun hujan. Setelah keluar dari medan ini, jalurnya relatif landai.
          Kami melakukan camp pada koordinat 9990.9535 di sebuah dataran cukup luas untuk menampung 2 dome.Tak seperti di camp sebelumnya, malamnya kami membuat perapian dan mengeringkan pakaian-pakaian basah.

H 4, 27 Maret 2011
     Perjalanan yang ditempuh pada operasional hari keempat cukup panjang, dari ketinggian 1.800m dpl s/d 2.800 m dpl. Dari Camp 3 jalur mengikuti punggungan di atas Kali Banjaran. Medannya relatif landai dan terdapat tanjakan tak terlalu terjal di beberapa tempat. Jalannya tertutup rapat oleh semak-semak berduri, paku-pakuan, dan pohon-pohon tumbang. Berkali-kali kami harus merangkak atau berjalan di atas pohon tumbang. Bila kurang teliti, seringkali kami tergores oleh duri-duri semak.
     Di jalur ini kami menemukan pemandangan yang cukup mengerikan! Pada sebatang pohon terdapat bekas cakaran hewan yang diduga macan!Hiiiyy….jangan-jangan kucing besar itu tengah mengintip di balik rerimbunan, mengintai. Sebelum Pos 4 kami pun disuguhi oleh beautiful view sebuah objek kuning berlalat hijau yang menyebarkan aroma semerbak.
     Dari tempat ini Plawangan terlihat dengan jelas, membuat semangat kami untuk summit attact semakin menggebu-gebu. Tapi apa mau dikata, perjalanan dari Pos 4 ke Pertigaan Kaliwadas saja sangat jauh dengan menempuh medan yang terjal dan tertutup rapat oleh semak dan banyak dirintangi pohon tumbang.
     Dari Gunung Malang vegetasi mulai didominasi oleh centigi, rumput, dan edelweiss. Edelweiss yang cantik dan menebarkan aroma segar seakan menjadi hadiah istimewa bagi kami. Burung-burung tiada henti berceloteh di tengah savanah kendati langit menurunkan rinai hujan. Perjalanan semakin berat. Punggungan semakin terjal dan petir menyambar-nyambar, serasa begitu dekat dengan kami. Apalagi salah satu anggota tim kami kondisinya mulai drop, membuat perjalanan terasa melambat.
     Kami tiba di Pertigaan Kaliwadas-Baturraden tepat pada pukul 18.00. Summit attact, latihan medan vertikal, dan turun sampai Pos 3 jalur Baturraden tidak terlaksana. Camp 4 terletak pada koordinat 9990.9535. Cuaca dingin dan hujan. Suhu mencapai 8°C di luar tenda.
Dari camp 4 kami, Puncak Slamet tampak begitu cantik dan teduh. Ia seperti gadis suci yang melepas cadar putihnya untuk memperlihatkan sebentuk senyum hangatnya kepada kami. Ah, jika kau berkenan, besok kami akan mencumbu lautan pasirmu dan mengibarkan Merah Putih di puncakmu.
H5, 28 Maret 2011
   Jadwal operasional  hari kelima molor dari rencana yang telah dikoordinasikan. Karena bahan bakar sudah habis dan perapian tidak jadi, kami sarapan hanya dengan mie mentah dan susu dingin. Summit attact dan latihan medan vertikal terpaksa dibatalkan karena cuaca yang tidak mendukung. Jalan menuju puncak berkabut sangat tebal dan berangin kencang, sehingga diputuskan untuk langsung turun demi keselamatan. Walau dengan berat hati, kami melangkah pulang bersama selembar Merah Putih yang belum sempat berkibar di puncak.
   Medan yang ditempuh bervariatif, landai dan terdapat turunan terjal di beberapa tempat dan terkadang dirintangi oleh pohon-pohon tumbang. Jalur Baturraden sering dilalui pendaki sehingga medan terlihat jelas, juga terdapat pos atau shelter yang telah diberi nama pula. Di Pos 3  ½ kami berhenti untuk ishoma selama 2 jam. Kami masak makan siang dengan menggunakan perapian. Menunya cukup membuat kami semangat melahapnya, nata de coco campur cola dan susu coklat, mie rebus, telur dadar, dan bengkuang.
   Dari Pos 3 cuaca mulai mendung dan gerimis. Pukul 17.08 sampai di pertigaan Baturraden-Kalipagu, lalu mengambil jalan ke arah kanan. Untuk mencapai Kolam Tando Harian (KTH) sangat jauh dengan menempuh medan terjal yang licin. Pergerakan kami pun melambat karena anggota tim yang cewek sakit.
   Gemuruh Kali Banjaran seakan terasa dekat, tapi tidak kunjung sampai seperti hanya sebuah fatamorgana. Vegetasi hutan didominasi oleh pohon bambu. Tanahnya becek dan licin. Di KTH kami menyeberangi jembatan untuk aliran air yang menuju ke bendungan. Jalan dari KTH menuju basecamp Kalipagu berupa jalan berbatu dan berundakan, dan kembali ke jalur awal pendakian tempo hari.
   Teman-teman dari sekre UPL MPA seperti Mbak Ita, Mas Yogi “Ahong”, Mbak Mila, dan Mas Wawan menjemput kami ke basecamp Kalipagu. Setelah sejenak ramah-tamah dan bersih-bersih, kami pulang ke sekre tercinta. Try Out 1 pun ditutup dengan penuh rasa syukur. Ah…kembali ke peradaban!!!Congratulation!












Minggu, 04 Maret 2012

Raung, Eksotisme Gunung di Ujung Jawa Timur

Jumat, 15 Juli 2011


Akhirnya, saat yang dinanti selama ini datang juga. Pukul 05.10 tanggal 15 Juli 2011 tim pengembaraan gunung hutan Tapak Jagat – Lintang Jagat UPL MPA UNSOED berangkat menuju stasiun Purwokerto dengan diantar oleh beberapa AB UPL MPA dan saudara-saudara kami dari tim Rock Climbing. Kami berangkat menuju Jember Jawa Timur dengan menggunakan kereta api ekonomi Logawa. Tapi kursi-kursi masih kosong sehingga kami dapat memilih tempat duduk.
Semakin siang hawa dalam kereta semakin panas, ditambah teriakan-teriakan pedagang asongan yang menawarkan dagangannya selayaknya biasa dijumpai dalam kereta kelas ekonomi. Tetapi koordinator kami, Mr.Sigit Puji Jatmiko tetap terlelap tanpa terganggu oleh suasana, sehingga menjadi objek keisengan kami.
Kami pun bertemu dengan sekelompok pendaki yang akan berangkat ke Gunung Semeru dan akan transit di Universitas Negeri Jember pula. Akhirnya pada pukul 21.12 kami tiba di stasiun Jember. Tetapi ada kejadian yang cukup menggelikan. Setelah cukup lama kami duduk di bangku tak jauh dari Logawa berhenti, kami baru sadar kantong kresek yang berisi oleh-oleh untuk Mahapena Unej tertinggal di kolong kursi. Kami cari lagi, tetapi barang itu sudah tidak ada. Agak menyesal juga, kalau begini jadinya mending tadi makanannya dimakan saat di perjalanan.
Pukul 21.40 jemputan dari Mahapena datang. Dengan menggunakan sepeda motor kami berangkat menuju sekretariat Mahapena. Di sekretariat orang-orang masih ramai. Setelah membereskan peralatan, kami mengobrol dengan mereka sampai larut malam. Menanyakan informasi gunung-gunung yang akan kami daki dan mencari peta Gunung Arjuno-Welirang sheet Lawang. Alhamdulillah kami memperoleh soft copy-nya.
Tengah malam kami mulai melakukan evaluasi dan koordinasi di kamar loteng yang terletak tepat di bawah genting. Aksesnya pun unik dengan menggunakan tangga kecil di atas meja televisi dengan bantuan seutas tali dadung.
Sabtu, 16 Juli 2011
Pukul 05.30 tim memulai aktivitas. Setelah sarapan pagi gratis yang nikmat, Sigit dan Hata print peta dan mengirimkan soft copy peta lewat e-mail ke setiyawan. Sedangkan Yeni berbelanja logistik ke Pasar Tanjung Jember bersama Mbak Tami salah seorang anggota Mahapena angkatan 2007.
Pukul 12.45 kami berangkat menuju terminal bus Arjasa dengan diantar anak-anak Mahapena. Tetapi motor yang membonceng Hata ada kendala sehingga kami harus menunggu cukup lama di terminal. Dengan menggunakan bus jurusan Jember – Situbondo kami berangkat menuju Gardu Atak. Dari Gardu Atak menggunakan angkudes menuju Pesanggrahan di Sumber Wringin.
Pondok pendaki di Sumber Wringin, atau dikenal dengan nama Kamar Bola dan Pesanggrahan oleh penduduk sekitar cukup nyaman. Fasilitas bangunan berarsitektur Belanda itu pun terbilang mewah dengan  2 kamar mandi yang besar dan kamar yang disewakan Rp 150.000,00/malam. Tetapi kami menggunakan bangunan di sebelah barat yang hanya dikenakan uang kebersihan sebagai pengganti uang sewa. Fasilitasnya pun alakadarnya, dua buah ranjang yang sudah lusuh, sebuah sofa panjang, dan lantainya kotor. Tapi ruangannya yang besar cukup leluasa digunakan kami untuk packingbarang.
Aktivitas camp kami kali ini terbilang lama, sehingga pada pukul 22.00 baru melaksanakan evaluasi dan koordinasi. Pukul 23.50 kami beristirahat, menyiapkan energi besar untuk pendakian pertama ke Gunung Raung dalam operasional pengembaraan ini.
Minggu, 17 Juli 2011
Alhamdulillah, kami bisa berangkat pagi pada pukul 06.15. Dari Pesanggrahan kami harus berjalan kaki menuju Pondok Motor karena tidak ada truk atau colt pengangkut hasil panen yang lewat. Menurut petunjuk jalur pendakian Gunung raung yang diberikan Bu Endang, pengelola Pesanggrahan, jarak yang ditempuh ke Pondok Motor sejauh 7 km berupa jalan raya yang disambung dengan jalan makadam. Cukup menguras tenaga untuk operasional gunung pendakian pertama.
Sepanjang 7 km itu kami melewati perkebunan tebu yang luas, disambung dengan perkebunan pinus, dan kopi. Ternyata tanah lereng Gunung Raung yang miskin air itu bagus untuk pertanian labu siam. Kebetulan saat itu petani labu  siam sedang panen. Harga perbuahnya lumayan, Rp 500 – Rp 1000/buah.
Salah satu fenomena budaya unik yang kami jumpai di sana adalah dari segi bahasa yang mereka gunakan. Penduduk lereng Gunung Raung mayoritas suku Madura. Tetapi menurut informasi, bahasa yang mereka gunakan berbeda dengan bahasa Madura asli meski dialeknya sama. Cukup menjadi hiburan bagi kami karena baru kali ini mendengar secara langsung penutur asli bahasa Madura, apalagi Mas Doso pendamping kami pandai meniru dialek mereka. Geli,Pak!
Setelah memasuki jalan setapak di sekitar perkebunan kopi kami kebingungan karena banyaknya percabangan jalur sehingga kami pun tersesat cukup jauh dengan mengambil jalan ke arah kiri yang menuju ke Gunung Suket. Setelah melakukan orientasi medan dan bertemu dengan penduduk, kami pun kembali ke arah yang benar.
Menurut informasi dari penduduk yang bertemu dengan kami, Pondok Motor sudah tidak ada gubuknya sepeninggal Mbah Serani (Penjaga Pondok Motor) dan tidak ada sumber air. Padahal menurut referensi ada air di Pondok Motor. Kemudian terpaksa kami minta pertolongan kepada Penduduk untuk mengambilkan air di Desa dengan imbalan Rp 20.000,00.
Di sepanjang jalur yang kami tempuh banyak terdapat dataran yang cukup luas yang kami sangka sebagai pos. Kami rasa telah hari pertama telah mencapai beberapa pos, tetapi kami keliru.
Pukul 16.00 membuat outdoor camp pertama kami di koordinat ( 08° 03’58” LS. 114° 02’26” BT ). Kami pun dapat melakukan evaluasi dan koordinasi tepat waktu yaitu pukul 19.00 WIB.
Senin, 18 Juli 2011
Wah, operasional kali ini molor dari waktu yang telah dikoordinasikan. Kami mulai berjalan pada pukul 07.45. Pondok Sumur yang kami cari-cari dari kemarin ternyata hanya ditempuh selama 5 menit dari tempat camp. Di pos ini terdapat botol air mineral bekas sebagai tempat penampungan air, tetapi isinya hanya sedikit.
Perjalanan hari ini terasa sangat panjang dengan target Bibir Kawah Gunung Raung dan kembali lagi ke tempat camp. Apalagi anggota tim yang perempuan terkena mountain sickness sehingga pergerakan kami diperlambat.
Pemandangan yang terhampar di sepanjang perjalanan sangat indah. Pohon-pohon cemara menjulang di antara kabut-kabut tipis yang melayang perlahan. Bunga-bunga teklan, primula polifera yang kuning manis, edelweiss putih, dan buah-buah arbei hutan yang merah segar seakan berlomba memamerkan kecantikannya pada kami. Rerumput dan semak yang bergoyang tertiup angin seolah tengah menari, dan burung-burung bercericit mengucap selamat datang dengan ramah pada kami.
Di Pondok Angin kami melakukan ishoma dengan menu kacang ijo, susu, dan agar-agar. Pondok Angin tidak seindah pemandangan di tempat lain. Keadaannya gersang dan terdapat bekas kebakaran yang baru. Di Memorial Deden Hidayat atau Plawangan Gunung Raung kami bertemu dengan beberapa orang penduduk yang baru turun dari puncak Raung. Perjalanan menuju bibir kawah memakan waktu 1 jam. Jalurnya berbatu-batu padat dan berbahaya. Di kiri kanan terdapat jurang-jurang yang dalam, sementara kami berjalan di atas punggungan selebar 30 cm. Untung saat itu tidak ada angin kencang.
 Menjelang bibir kawah jalur terjal dan berbatu rapuh. Akhirnya kami pun tiba di puncak pertama dalam operasional pengembaraan. Spanduk pengembaraan yang panjang, panji UPL MPA, dan bendera merah putih pun berkibar.
Di bibir kawah kami hanya menghabiskan waktu 30 menit karena hari sudah mulai sore, cuaca berkabut, berangin cukup kencang, dan dua orang anggota tim yaitu Fajar dan Yeni muntah-muntah di puncak. Kami terpaksa melakukan perjalanan malam menuju tempatcamp karena kami menyimpan cadangan air di sana. Pukul 18.52 barulah kami tiba di tempat camp dan langsung bergerak cepat melakukan aktivitas camp.
Selasa, 19 Juli 2011
Pagi ini Sigit pergi ke Pondok Sumur untuk mengambil air di penampungan karena persediaan kami hampir habis karena semalam kurang kontrol penggunaan air. Tetapi hanya mendapat satu vedples kecil air. Akhirnya pengontrolan penggunaan air diambil alih pendamping.
Pergerakan turun kami pun dipercepat karena cuaca semakin panas. Untuk menambah asupan air yang kurang kami melakukan survival dengan makan umbi paku-pakuan yang diambil pendamping dari sekitar tempat camp. Rasanya agak pahit dan kelat, tetapi cukup menyegarkan karena kandungan airnya banyak. Tetapi rasa pahitnya tertolong oleh agar-agar rasa melon yang potong kecil-kecil.


 Di perjalanan kami bertemu dengan para pencari obat-obatan dan penduduk yang lalu-lalang dengan sepeda motor di jalur pendakian. Kami tiba di Pondok Motor pukul 09.50 dan bertemu dengan colt pengangkut labu siam. Di pertigaan jalan makadam kami melakukan coffee break. Cadangan air terakhir kami disulap menjadi minuman segar campuran susu dengan agar-agar.
Perjalanan ke Pesanggrahan sama nasibnya dengan perjalanan hari pertama pendakian kami, tidak mendapatkan tumpangan. Kami pun berjalan lagi sejauh 7 km tetapi waktu tempuhnya lebih cepat. Cuaca saat itu sangat panas dan jalan berdebu. Pukul 11.15 kami tiba di rumah pertama Dusun Legand untuk mengambil air. Beberapa teguk air mentah yang diperoleh dari sumber air salah satu rumah penduduk melegakan tenggorokan kering kami.
Cuaca terasa sangat panas di sepanjang jalan raya menuju Pesanggrahan. Tanah yang gersang, perkebunan tebu yang luas, anak-anak SD yang berlarian dengan layang-layang di tangan mereka, bangunan SD yang kumuh dan kering, menjadi serangkaian cerita di benak kami. Bapak-bapak yang ramah memberi kami beberapa batang tebu, cukup mengobati rasa haus yang selalu saja terasa. Akhirnya, pukul 12.15 kami tiba di Pesanggarahan. Di sana kami melakukan recovery, bersih-bersih, dan jalan-jalan di sekitar Pesanggrahan.
Nantikan Petualangan Selanjutnya..Selamat membaca dan Menjejak!!! Bersambung……………